Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Kabupaten Takalar berlangsung meriah melalui Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar. Festival yang merupakan gagasan Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, ini menghadirkan pawai santri dan pameran potensi pesantren sebagai ruang untuk memperkenalkan kreativitas serta kontribusi pesantren kepada masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Lapangan Upacara Kantor Bupati Takalar tersebut berlangsung pada Kamis (22/10/2026), dengan diikuti 18 pondok pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Takalar.
Pawai dan pameran pondok pesantren secara resmi dilepas dan dibuka langsung oleh Bupati Takalar, Ir. H. Mohammad Firdaus Daeng Manye, M.M., didampingi unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Takalar, Sekretaris Daerah Takalar, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar.
Festival ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Takalar dalam memeriahkan Hari Santri Nasional sekaligus memberikan ruang bagi pesantren untuk menunjukkan potensi, kreativitas, dan perannya dalam pembangunan daerah.
Gagasan Bupati Daeng Manye, Beri Ruang bagi Pesantren
Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar lahir dari gagasan Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi pondok pesantren agar eksistensi, potensi, dan kontribusinya semakin dikenal masyarakat.
Melalui festival ini, pesantren tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Santri Nasional, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk memperlihatkan hasil pembinaan pendidikan, kreativitas santri, serta potensi kewirausahaan yang dikembangkan di lingkungan pesantren.
Gagasan tersebut sejalan dengan pentingnya peran pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, disiplin, dan memiliki semangat kebangsaan.
Dalam sambutannya, Bupati Daeng Manye menegaskan bahwa pawai santri memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan seremonial.
“Pawai ini bukan sekadar seremonial, tapi menjadi syiar Islam dan ajang silaturahmi antar pondok pesantren. Santri adalah aset bangsa, penjaga moral dan masa depan Indonesia Emas,” ujar Daeng Manye.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarpesantren sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap peran santri dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah.
18 Pondok Pesantren Ikut Pawai Santri
Kemeriahan festival diawali dengan penampilan drum band dari SMP Negeri 1 Takalar yang tampil energik, kemudian dilanjutkan dengan barisan pawai dari 18 pondok pesantren.
Adapun 18 pondok pesantren yang mengikuti pawai tersebut, yakni:
1. PP Al-Fatih
2. Pondok Modern Nurul Asafah Pattallassang
3. PP Miftahul U’lum Sanrobone
4. PP Ahlul Jannah Hidayatullah Takalar
5. PP Assalam Timbuseng
6. PPTQ Al-Imam Mangadu
7. PP Tahfizul Qur’an Ar-Rayyan
8. PP Nahdatul Ummah
9. PP Assalamiyah Galesong
10. PP Tarbiyah Palleko
11. PPTQ Faliqul Irsyad Banggae
12. PP Mahyajatul Qurra Lassang
13. PP Al-Qamar Bajang
14. PP Babussalam Galut
15. PP Khaerunnisa Galesong
16. PP Darul Aman Lengkese
17. PPLH Puntondo
18. PP Jamal Rahma
Rute pawai dimulai dari Lapangan Upacara Kantor Bupati Takalar, kemudian menyusuri rute yang telah ditentukan dan kembali finis di lokasi semula.
Suasana semakin semarak dengan penampilan drum band dari SD Center Pattallassang dan Drum Band Pondok Modern Nurul Asafah. Barisan Drum Band MTs Mannongkoki menjadi penutup rangkaian pawai.
Kehadiran para santri dari berbagai pesantren tersebut memperlihatkan semangat kebersamaan dan menjadi ajang silaturahmi antarlembaga pendidikan Islam di Kabupaten Takalar.
Pameran Pesantren Tampilkan Karya dan Potensi Santri
Usai melepas peserta pawai, Bupati Takalar bersama Forkopimda meninjau Pameran Pondok Pesantren yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar 2026.
Pameran tersebut menghadirkan berbagai hasil karya dan potensi santri, mulai dari produk kreatif, karya tulis, kaligrafi, hingga produk kewirausahaan pesantren.
Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada pondok pesantren untuk memperkenalkan program, karya, dan hasil pembinaan santri kepada pemerintah daerah serta masyarakat luas.
Selain sebagai sarana promosi potensi pesantren, pameran tersebut juga menjadi ruang untuk mendorong kreativitas dan kemandirian ekonomi santri agar mampu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Perkuat Peran Pesantren Menuju Indonesia Emas
Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda perayaan Hari Santri Nasional, tetapi juga menjadi sarana memperkuat peran pesantren dalam bidang pendidikan, dakwah, pembentukan karakter, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui gagasan Bupati Daeng Manye ini, pesantren diharapkan semakin memperoleh ruang untuk memperkenalkan potensinya sekaligus memperluas kontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Takalar.
Momentum Hari Santri Nasional juga menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai keagamaan, memperkuat persatuan, dan mempersiapkan generasi masa depan yang berilmu serta berakhlak mulia.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun melalui festival tersebut, Kabupaten Takalar diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi santri yang kreatif, mandiri, berdaya saing, dan siap berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.