TAKALAR.Refleksi setahun hari kerja kepemimpinan Bupati–Wakil Bupati Takalar periode 2025–2030 digelar di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Senin (02/03/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua dan Wakil ketua DPRD Takalar Muhammad Rijal, Wakil Bupati Hengky Yasin, Sekda H. Muhammad Hasbi, pejabat tinggi pratama, pimpinan OPD, camat, lurah, kepala desa, hingga unsur organisasi kemasyarakatan dan insan pers.
Juga terpantau kedatangan anggota DPR RI. Achamad daeng Se’re, terpantau sudah berada di dalam ruangan tepat pukul 16.00 WITA, sementara sejumlah kepala dinas telah lebih awal hadir, di antaranya Kepala Dinas Kesehatan Nilal Fauziah dan Kadis Kominfo
Sebelum acara dimulai, tepat pukul 15.30 WITA peserta belum sepenuhnya hadir. Panitia terlihat menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa 12 Ramadan.
Camat Polongbangkeng Utara Ajhi Andi Makmur dan Camat Mappakasunggu Dodi Ryan Saputra tampak duduk di sisi kiri barisan kursi undangan.
Lurah Sabintang M Arfa Naba sudah berada di ruangan sejak pukul 14.55 WITA. Ia mengaku datang lebih awal karena instruksi pimpinan.
“Saya sudah hadir lima menit sebelum waktu undangan karena memang instruksi Pak Bupati demikian,” ujarnya.
Sementara itu, di Rektur PDAM bersama kasatpol, juga hadir pukul 15.40 WITA menegaskan dirinya datang memenuhi undangan refleksi satu tahun kepemimpinan beliau.
Dalam pemaparannya, Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye MM menekankan pentingnya transformasi digital sebagai instrumen pengawasan dan percepatan pelayanan.
“Kalau saya gunakan mata dan kuping saya, tidak mampu mengawasi semuanya. Tapi kalau saya gunakan teknologi, itu perpanjangan mata dan kuping saya,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengawasan pegawai hingga guru yang tersebar di ratusan sekolah dasar dan puluhan SMP di Takalar.
“Kita punya SD sekitar 290 dan SMP 40-an, gurunya ribuan. Bagaimana saya mengawasi guru dan kepala sekolah di jam kantor? Harus pakai teknologi,” ujarnya.
Menurutnya, sistem kontrol digital juga memungkinkan orang tua mengetahui kehadiran anak di sekolah secara real time.
“Orang tua sekarang bisa tahu anaknya hadir atau tidak, bolos atau tidak. Ini masa depan Takalar yang harus kita siapkan,” katanya.
Daeng Manye juga menyoroti digitalisasi layanan publik, mulai dari administrasi kependudukan seperti KTP dan KK hingga pembayaran PDAM yang kini bisa dilakukan melalui mobile banking maupun gerai ritel modern.
“Sekarang bayar PDAM tidak harus datang ke counter. Dari HP bisa, lewat mobile banking bisa, di Alfamart juga bisa. Kita harus intervensi kegiatan dengan teknologi,” jelasnya.
Ia menambahkan, percepatan digitalisasi desa dan peningkatan transaksi elektronik menjadi fokus tahun 2026.
Selain digitalisasi, Daeng Manye menekankan pentingnya jiwa pelayanan aparatur.
“Jangan orang datang malah dimarahi. Itu bukan jiwa pelayanan,” tegasnya.
Program quick wins yang dipaparkan meliputi pengembalian anak tidak sekolah, peningkatan produksi pertanian lima persen, hingga target peningkatan PAD.
“Target sepuluh persen, malah kita mampu meningkat dua ratus persen. Artinya ada arah yang jelas,” ungkapnya.
Di sektor infrastruktur, perbaikan balai desa yang kerap dikeluhkan warga mulai dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
Ia juga menyebut pelatihan Google bagi UMKM sebagai investasi jangka panjang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kalau sekarang UMKM muncul di Google, mungkin dua atau tiga tahun ke depan pertumbuhan ekonomi Takalar makin baik dan lebih dikenal,” katanya.
Di akhir pemaparan, Bupati Daeng Manye memperkenalkan Gerbang Transformasi sebagai ikon perubahan Takalar.
“Ini futuristik, kreatif. Spirit perubahan ada di sini. Takalar harus berubah,” tutupnya sebelum mengajak seluruh hadirin mempererat silaturahmi di bulan Ramadan.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama.